Senin, 23 Januari 2012

fisika bumi




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari tanah tidak terlepas dari pandangan, sentuhan dan perhatian kita. Kita melihatnya, menginjak, mengunakan dan memperhatikannya. Kita tergantung dari tanah dan sebaliknya tanah-tanah yang baik dan subur tergantung dari cara kita menggunakannya. Tanah merupakan tubuh alam tempat hidup tumbuhan dan binatang. Tanah sebagai tubuh alam mempunyai berbagai macam fungsi utama, diantaranya adalah sebagai media tumbuhan tanaman yang menyediakan hara dan air, sebagai gudang unsur-unsur hara makro dan mikro serta mengatur penyediaan bagi tanaman, dan sebagai tempat tunjangan mekanik akar tanaman. Tanah dari tempat ke tempat tanah berbeda. Misalnya pada lereng yang curam tanah tidak sedalam dan seproduktif seperti tanah yang terdapat di tempat yang datar. Sifat-sifat tanah yang dibentuk di daerah tropic akan berbeda dari tanah yang dibentuk di daerah sub tropic. Oleh karen itu kita harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, komponen-komponen penyusun tanah, klasifikasi tanah, klasifikasi pelapukan, proses terbentuknya pelapukan, dan hal lainnya yang mengenai tanah dan pelapukan.
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Tanah tersusun atas empat komponen penyusunnya, yaitu: bahan padatan (berupa bahan mineral), bahan lain (berupa bahan organik, air, udara), Bahan tanah tersebut rata-rata 50%, bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara. Tanah merupakan salah satu akibat dari proses pelapukan, pelapukan sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu mekanis, biologis, dan kimiawi. Untuk lebih jelasnya, maka makalah ini disusun.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan yang ingin kami peroleh adalah :
1.2.1.   Mengetahui definisi pelapukan
1.2.2.   Mengetahui jenis-jenis pelapukan
1.2.3.   Mengetahui definisi tanah
1.2.4.   Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan  tanah,
1.2.5.   Mengetahui komponen-komponen pembentukan tanah,
1.2.6.   Mengetahui jenis-jenis tanah, tekstur tanah, warna tanah, dan solusi tanah








BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pelapukan
Gambar 1. Pelapukan

2.1.1   Pengertian pelapukan
Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada dan atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia dan atau biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil). Kiranya penting untuk diketahui bahwa proses pelapukan akan menghacurkan batuan atau bahkan melarutkan sebagian dari mineral untuk kemudian menjadi tanah atau diangkut dan diendapkan sebagai batuan sedimen klastik.
Pelapukan atau weathering (weather) juga dapat didefinisikan sebagai perusakan batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dibagi dalam tiga macam, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis
Sebagian dari mineral mungkin larut secara menyeluruh danmembentuk mineral baru. Inilah sebabnya dalam studi tanah atau batuan klastika mempunyai komposisi yang dapat sangat berbeda dengan batuan asalnya. Komposisi tanah tidak hanya tergantung pada batuan induk (asal) nya, tetapi juga dipengaruhi oleh alam, intensitas, dan lama (duration) pelapukan dan proses jenis pembentukan tanah itu sendiri (Boggs, 1995).
                     
2.1.2     Klasifikasi pelapukan

Menurut proses terjadinya
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis,  yaitu
*           pelapukan fisik atau mekanik,
*           pelapukan organis, dan
*           pelapukan kimiawi

a.   Pelapukan fisik dan mekanik.
ü  Pelapukan fisik
Gambar 2.A. Pelapukan fisik
                        
*      Pengertian Pelapukan fisik
Pelapukan fisik adalah proses dimana batuan pecah menjadi kepingan yang lebih kecil, tetapi tanpa mengalami perubahan  komposisi kimia dan mineral yang berarti. Pelapukan fisik ini dapat menghasilkan fragment/kristal kecil sampai blok kekar (joint block) yang berukuran besar. Pada proses ini batuan akan mengalami  perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya.
Pelapukan fisik adalah proses dimana batuan pecah menjadi kepingan yang lebih kecil, tetapi tanpa mengalami perubahan komposisi kimia dan mineral yang berarti. Pelapukan fisik ini dapat menghasilkan fragment/kristal kecil sampai blok kekar (joint block) yang berukuran besar.



*      Jenis pelapukan fisik
1)     Stress release : batuan yang muncul ke permukaan bumi melepaskan stress menghasilkan kekar atau retakan yang sejajar permukaan topografi. Retakan- retakan itu membagi batuan menjadi lapisan-lapisan atau lembaran (sheet)  yang sejajar dengan permukaan topografi. Proses ini sering disebut sheeting.  Ketebalan dari lapisan hasil proses sheeting ini semakin tebal menjauhi dari  permukaan. Proses pelapukan jenis ini (stress release) sering terjadi pada batuan beku  terobosan yang sangat dekat dengan permukaan bumi.

2)     Frost action and hydro-fracturing

Gambar 2.B. Frost action

Frost action merupakan pembekuan air dalam batuan. Air atau larutan lainnya yang tersimpan di dalam pori dan/atau retakan batuan akan  meningkat volumenya sekitar 9% dari sebelumnya apabila membeku, sehingga ini akan  menimbulkan tekanan yang cukup kuat memecahkan batuan yang ditempatinya.

Gambar 2.C. Frost action

Gambar 2.D. Frost action


Proses ini tergantung :
*          keberadaan pori dan retakan dalam batuan
*          keberadaan air/cairan dalam pori
*          temperatur dalam jangka waktu tertentu.





3)     Salt weathering:
Gambar 2.C. Akibat kristal garam

Salt weathering pertumbuhan kristal pada batuan. Pertumbuhan kristal pada pori batuan sehingga menimbulkan tekanan tinggi yang dapat merusak/memecahkan batuan itu sendiri.

4)     Insolation weathering : akibat pemanasan dan pendinginan permukaan karena pengaruh matahari. Tentu saja pelapukan jenis ini akan besar pengaruhnya di daerah yang mengalami perbedaan suhu cukup besar, misalnya siang (panas) dan malam (dingin).

5)    Alternate wetting and drying: pengaruh penyerapan dan pengeringan dengan cepat

ü   Pelapukan mekanik
  Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik. Pelapukan mekanis atau sering disebut pelapukan fisis adalah penghancuran batuan secara fisik tanpa mengalami perubahan kimiawi. Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh akibat pemuaian, pembekuan air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Untuk lebih jelasnya bagaimana perubahan itu, perhatikan baik-baik penyebab terjadinya pelapukan mekanik berikut ini:
1)        Perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam

          Penghancuran batuan terjadi akibat perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Pada siang hari suhu sangat panas sehingga batuan mengembang. Sedangkan pada malam hari temperatur turun sangat rendah (dingin). Penurunan temperatur yang sangat cepat itu menyebabkan batuan menjadi retak-retak dan akhirnya pecah, dan akhirnya hancur berkeping-keping. Pelapukan seperti ini Anda bisa perhatikan di daerah gurun.

          Di daerah Timur Tengah (Arab) temperatur siang hari bisa mencapai 60 derajat Celcius, sedangkan pada malam hari turun drastis dan bisa mencapai 2 derajat celcius . Atau pada saat turun hujan, terjadi penurunan suhu, yang menyebabkan batuan menjadi pecah.


                        Gambar 3.A. Perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam


2)        Akibat pembekuan air di dalam batuan
          Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
          Batuan bisa pecah/hancur akibat pembekuan air yang terdapat di dalam batuan. Misalnya di daerah sedang atau daerah batas salju, pada musim panas, air bisa masuk ke pori-pori batuan. Pada musim dingin atau malam hari air di pori-pori batuan itu menjadi es. Karena menjadi es, volume menjadi besar, akibatnya batuan menjadi pecah.
3)        Berubahnya air garam menjadi kristal.
Gambar 3.B. Akibat kristal garam
          Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali dan dapat merusak batu-batuan bahkan batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
4)        Akibat pemuaian
          Tahukah Anda bahwa batuan ternyata tidak homogen (sejenis), tetapi terdiri dari berbagai mineral, dan mempunyai koefisien pemuaian yang berlainan. Oleh karena itu dalam sebuah batu pemuaiannya akan berbeda, bisa cepat atau lambat tergantung dari mineral yang terkandung di dalamnya. Pemanasan matahari akan terjadi peretakan batuan sebagai akibat dari adanya perbedaan kecepatan dan koefisien pemuaian tersebut.


b. Pelapukan organik
Gambar 4. Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang, tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang.
Gambar 4.A. pelapukan akibat aktivitas hewan
Gambar 5.B. Pelapukan akibat aktivitas hewan
Gambar 6. Pelapukan akibat akar tumbuhan
Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar-akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.


c. Pelapukan kimiawi
Gambar 7.A. Pelapukan kimia
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 ( Zat asam arang ) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CaCO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.
Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.
Pelapukan kimia membuat komposisi kimia dan mineralogi suatu batuan dapat berubah. Mineral dalam batuan yang dirusak oleh air kemudian bereaksi dengan udara (O2 atau CO2), menyebabkan sebagaian dari mineral itu menjadi larutan. Selain itu, bagian unsur mineral yang lain dapat bergabung dengan unsur setempat membentuk kristal mineral baru. Pada pelapukan kimia air dan gas terlarut memegang peran yang sangat penting. Sedangkan pelapukan kimia sendiri mempunyai peran terpenting dalam semua jenis pelapukan. Hal ini disebabkan karena air ada pada hampir semua batuan walaupun di daerah kering sekalipun. Akan tetapi pada suhu udara kurang dari 30o C, pelapukan kimia berjalan lebih lambat.
Proses pelapukan kimia umumnya dimulai dari dan sepanjang retakan atau tempat lain yang lemah. Kecepatan pelapukan kimia tergantung dari iklim, komposisi mineral dan ukuran butir dari batuan yang mengalami pelapukan. Pelapukan akan berjalan cepat pada daerah yang lembab (humid) atau panas dari pada di daerah kering atau sangat dingin. Curah hujan rata-rata dapat mencerminkan kecepatan pelapukan, tetapi temperatur sulit dapat diukur. Namun secara umum, kecepatan pelapukan kimia akan meningkat dua kali dengan meningkat temperatur setiap 10oC. Mineral basa pada umumnya akan lebih cepat lapuk dari pada mineral asam. Itulah sebabnya basal akan lebih cepat lapuk dari pada granit dalam ukuran yang sama besar. Sedangkan pada batuan sedimen, kecepatan pelapukan tergantung dari komposisi mineral dan bahan semennya.
Pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara air, terutama air hujan. Tentunya Anda masih ingat bahwa air hujan atau air tanah selain senyawa H2O, juga mengandung CO2 dari udara. Oleh karena itu mengandung tenaga untuk melarutkan yang besar, apalagi jika air itu mengenai batuan kapur atau karst.
Gambar 7.B. daerah batuan kapur atau Karst
Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Oleh karena itu jika Anda perhatikan pada permukaan batuan kapur selalu ada celah-celah yang arahnya tidak beraturan. Hasil pelapukan kimiawi di daerah karst biasa menghasilkan karren, ponor, sungai bawah tanah, stalagtit, tiang-tiang kapur, stalagmit, atau gua kapur.
·           Karren
Di daerah kapur biasanya terdapat celah-celah atau alur-alur sebagai akibat pelarutan oleh air hujan. Gejala ini terdapat di daerah kapur yang tanahnya dangkal. Pada perpotongan celah-celah ini biasanya terdapat lubang kecil yang disebut karren.
  • Ponor
Ponor adalah lubang masuknya aliran air ke dalam tanah pada daerah kapur yang relatif dalam. Ponor dapat dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu dolin dan pipa karst. Dolin adalah lubang di daerah karst yang bentuknya seperti corong.
Gambar 8. Dolin
Dolin ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu dolin korosi dan dolin terban. Dolin korosi terjadi karena proses pelarutan batuan yang disebabkan oleh air. Di dasar dolin diendapkan tanah berwarna merah (terra rossa). Sedangkan dolin terban terjadi karena runtuhnya atap gua kapur (perhatikan gambar).
Gambar 9. Dolin Korosi.
Gejala karst berikutnya adalah pipa karst yang bentuknya seperti pipa. Gejala ini terjadi karena larutnya batuan kapur oleh air. Karena terjadi proses pelarutan batuan, maka disebut pipa karst korosi. Namun jika terjadi karena tanah terban, pipa karst itu disebut pipa karst terban atau disebut juga yama-type.
Gambar 10. Dolin Terban
Pipa karst, bentuknya seperti pipa. Gejala ini terjadi karena larutnya batu oleh air
Gambar 11.A. Aven Type (terjadi karena proses pelarutan batuan)
Gambar 11.B. Yama Type (terjadi karena tanah terban)




·         Gua Kapur, dalam bentuk stalaktit dan stalakmit
Gambar 12. Stalaktit
Jika Anda berkunjung ke daerah kapur, biasanya di daerah ini banyak terdapat gua kapur. Pada gua ini sering dijumpai stalaktit dan stalakmit. Stalaktit adalah endapan kapur yang menggantung pada langit-langit gua (atas). Bentuknya biasanya panjang, runcing dan tengahnya mempunyai lubang rambut. Sedangkan stalakmit adalah endapan kapur yang terdapat pada lantai gua (bawah). Bentuknya tidak berlubang, berlapis-lapis, dan agak tumpul. Jika stalaktit dan stalakmit bisa bersambung, maka akan menjadi tiang kapur (pillar).
*        Jenis pelapukan kimia
Pelapukan kimia menyebabkan mineral terlarut dan mengubah sturkturnya sehingga mudah terfragmentasi. Perubahan daya larut (solubility) disebabkan oleh solution (oleh air), hidrolisis, karbonasi, dan oksidasi-reduksi. Perubahan struktur disebabkan oleh hidrasi dan oksidasi-reduksi.



1.      Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi antara mineral silikat dan asam (larutan mengandung ion H+ ) dimana memungkinkan pelarut mineral silikat dan membebaskan kation logam dan silika. Mineral lempung seperti kaolin, ilit dan smektit besar kemungkinan hasil dari proses pelapukan kimia jenis ini (Boggs, 1995). Pelapukan jenis ini memegang peran terpenting dalam pelapukan kimia.

Hidrolisis : reaksi suatu substansi dengan air yang membentuk hidroksida dan substansi baru lain yang lebih mudah terlarut dari substansi asalnya. Hidrolisis merupakan salah satu reaksi pelapukan yang terpenting yang menyebabkan perubahan profil tanah.
Contoh    :
                 KAlSi3O8 + HOH  ===>  HAlSi3O8 + KOH

2.      Karbonasi
Karbonasi merupakan reaksi senyawa dengan asam karbonat (asam karbonat merupakan asam lemah yang diproduksi dari gas CO2 yang terlarut dalam air).
Contoh :
                        CO2 + H2O ® H2CO3            ===>   H+ + HCO3-
                        CaCO3 + H+ + HCO3-           ===>   Ca (HCO3)2








3.      Hidrasi
Gambar 13. Akibat hidrasi
Hidrasi adalah proses penambahan air pada suatu mineral sehingga membentuk mineral baru. Lawan dari hidrasi adalah dehidrasi, dimana mineral kehilangan air sehingga berbentuk anhydrous. Proses terakhir ini sangat jarang terjadi pada pelapukan, karena pada proses pelapukan selalu ada air. Contoh yang umum dari proses ini adalah penambahan air pada mineral hematit sehingga membentuk gutit.
Contoh :
                 2Fe2O3 + 3H2O ® 2Fe2O3.3H2O






4.      Oksidasi

Gambar 14. Akibat oksidasi

Oksidasi berlangsung pada besi atau mangan yang pada umumnya terbentuk pada mineral silikat seperti biotit dan piroksen. Elemen lain yang mudah teroksidasi pada proses pelapukan adalah sulfur.
Oksidasi : kehilangan elektron atau penggabungan senyawa dengan oksigen. Mineral yang teroksidasi meningkat volumenya karena penambahan oksigen dan umumnya lebih lunak. Perubahan bilangan oksidasi juga menyebabkan ketidakseimbangan muatan listrik sehingga lebih mudah “terserang” air dan asam karbonat. Oksidasi dan reduksi merupakan proses yang selalu bersama.
Contoh :
                 4FeO + O2 ===>  2Fe2O3

5.    Reduksi terjadi dimana kebutuhan oksigen (umumnya oleh jasad hidup) lebih banyak dari pada oksigen yang tersedia. Kondisiseperti ini membuat besi menambah elektron dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih mudah larut sehingga lebih mobil, sedangkan Fe3+ mungkin hilang pada sistem pelapukan dalam pelarutan.

6.    Pelarutan mineral yang mudah larut seperti kalsit, dolomit dan gipsum oleh air hujan selama pelapukan akan cenderung terbentuk komposisi yang baru.

7.    Pergantian ion adalah proses dalam pelapukan dimana ion dalam larutan seperti pergantian Na oleh Ca. Umumnya terjadi pada mineral lempung.






















2.2   Tanah
Gambar 15. Tanah

2.2.1 Definisi tanah
Tanah (soil) adalah suatu hasil pelapukan biologi (Selley, 1988), dimana komposisinya terdiri atas komponen batuan dan humus yang umumnya berasal dari tetumbuhan. Menurut Dokuchaiev, Tanah adalah bentukan mineral dan organik di permukaan bumi, sedikit atau banyakdiwarnai oleh humus, secara tetap menyatakan diri sebagai hasil kegiatan kombinasi bahan seperti jasad, bahan induk, iklim dan relief. Menurut Sprengel, Tanah adalah suatu masa bahan yang berasal dari mineral yang mengandung hasil dikomposisi (penghancuran) hewan dat tumbuhan.
Menurut Fredrich Fallou, Tanah dianggap sebagai hasil pelapukan oleh yang menggerogoti batuan keras planet kita dan lambat laun mengadakan bikomposisi massa tanah yang kompak. Menurut M. Isa Darmawijaya, Tanah adalah akumulasi alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk, dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Bagi geologiawan studi tanah ini (umumnya disebut pedologi) lebih dipusatkan pada tanah purba (paleosoil), dimana akan membantu untuk mengetahui perkembangan sejarah geologi pada daerah yang bersangkutan. Akan tetapi perlu kiranya diketahui bahwa ciri dan ketebalan tanah hasil pelapukan sangat erat hubungannya dengan batuan induk (bedrock), iklim (curah hujan dan temperatur), kemiringan lereng dari batuan induk itu sendiri.
Tanah adalah campuran dari pecahan batuan, mineral tanah liat dan sebagian kwarsa, dan bahan-bahan organik. Sebagian besar terdiri atas mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan sisa-sisa mereka. Tanah podzol terjadi pada iklim basah, agak dingin, dan di bawah hutan conifer. Tanah latozol banyak ditemukan di daerah hutan hujan tropis. Tanah chernozem merupakan tanah yang subur dan biasa terbentuk pada daerah padang rumput dengan iklim sedang, agak lembab. Dan tanah pasir yang banyak terjadi di daerah gersang dan mengandung sedikit bahan organic, tetapi tanah jenis ini banyak mengandung mineral yang dapat larut pada saat turun hujan yang melimpah.
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi teratas yang tersusun atas butiran pasir, hasil pelapukan batuan serta sisa-sisa tumbuhan dan makhluk hidup lainnya, air, dan udara. Pembentukan tanah ini sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang menyusun tanah tersebut, curah hujan, penyinaran matahari, dan lapisan penutup tanah tersebut.
Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua dar ipada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen.
Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan  menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang  ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Fungsi Tanah
1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
2. Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsu     hara)
3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh:     hormon,     vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin    anti hama; enzim    yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
4. Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena     terlibat     langsung atau tak langsung dalam penyediaan     kebutuhan primer dan     sekunder tanaman tersebut, maupun     yang berdampak negatif karena     merupakan hama & penyakit     tanaman.


Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:
1. Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman,     dan,
2. Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan     hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah     industri yang berbahaya.

2.2.2.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Tanah

Faktor-faktor pembentukan tanah adalah tidak tergantung ( bebas ), namun perlu di lihat situasinya.  Oleh karena itu dari seluruh faktor pada bentang lahan yang efektif sehingga hanya satu faktor peubah yang tampak.  Hal ini menjadikan sekuen-sekuen tanah dapat dikatakn hanya di rajai oleh faktor tunggal sehingga dapat ditemui tanah-tanah climosekuen, biosekuen, toposekuen, litosekuen, dan kronosekuen, ( Jenny.1941 ).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah yaitu, bahan induk organism, topografi, iklim, dan waktu.  Adanya beberapa tingkatan atau variasi faktor-faktor pembentuk tanah maka untuk menentukan berbagai jenis tanah yang berbeda adalah amat besar ( foth, H.D. 1999 ). Faktor-faktor pembentuk tanah tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1.  Iklim

     Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi proses pembentukan tanah terutama ada dua, yaitu suhu dan curah hujan.

  
a.      Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila suhu tinggi, maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula.
b.      Curah hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).

Iklim juga mempengaruhi pembantukan tanah secara tidak langsung yang menentukan vegetasi alami.  Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa terdapat beberapa penyebaran iklim, vegetasi  dan tanah yang pararel di permukaan bumi.  Setiap kenaikan 10°c akan menaikkan laju reaksi kimia dua sampai tiga kali.  Meningkatnya pelapukan dan kandungan liat terjadi dengan meningkatnya rata-rata temperature tanah.  Rupanya hanya tanah-tanah yang sangat muda mempunyai tingkatan pengaruh iklim yang konstan selama genesa tanah.

2.  Organisme

Tanaman mengabsobsi  unsur hara dari tanah dan mengangkut nutrient ke tajuk tanaman, bila tajuk mati dan jatuh kepermukaan tanah perombakan bahan organic akan melepaskan unsure hara untuk kesuburan dirinya sendiri.

Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organic terdistribusi lebih uniform di dalam tanah daripada tanah hutan.  Tanah dengan vegetasi hutan kira-kira separuh dari kadungan bahan organic dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna.  Horizon-horizon pada solum lebih asam dan persentase jenuh basa yang rendah dan lebih banyak liat yang akan dipindahkan dari horizon A ke horizon B.

     Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:  
a.      Membuat proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur larut oleh air.
b.      Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.
c.      Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organis yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
d.      Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

     
3.  Bahan Induk

     Bahan induk terdiri dari batuan vulkanik batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami pelapukan dan menjadi tanah. Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induknya masih terlihat misalnya tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi. Susunan kimia dan mineral bahan induk akan mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan vegetasi diatasnya.
    
     Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah dengan kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat menghindari pencucian asam silikat dan sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang warnanya lebih merah.

Keadaan alami bahan induk akan mempunyai pengaruh terputus pada sifat-sifat tanah muda, mereka dapat memakai satu pengaruh yang mendalam dalam perkembangan tanah termasuk tekstur, komposisi mineral dan tingkat stratifikasi. Pembentukan tanah dapat di mulai segera setelah penimbunan abu vulkanik tetapi harus menunggu penghancuran batu an keras secara fisik, dimana granit dibuka.  Penghancuran batuan dapat membatasi lajudan kedalaman perkembangan tanah, dimana laju penghancuran melebihi laju pemindahan bahan oleh erosi.
   

 
4.  Topografi/Relief

     Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:
a.      Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.
b.      Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

Topografi mengubah perkembangan profil tanah dalam tiga cara, yaitu :
a.      Mempengaruhi jumlah presipitasi yang di absorpsi dan di tahan dalam tanah, sehingga mempengarui kelembaban
b.      Mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah oleh erosi
c.      Mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspense atau larutan dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

5.  Waktu  

     Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadi semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanah berubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.



     Pembentukan tanah dibagi menjadi 2 macam yaitu
                     i.        perubahan massa padat (batuan) menjadi material yang tidak padat atau halus
                    ii.        perubahan material yang halus menjadi tanah seiiring dengan berjalannya waktu (disebut dengan perkembangan tanah/soil development).

     Pembentukan tanah (soil formation) merupakan pembentukan material yang tidak padat dengan adanya proses pelapukan dan pembentukan profil tanah (termasuk perkembangan horison).
*           Proses pembentukan tanah : penambahan (additions), kehilangan (losses), perubahan bentuk (transformation), pemindahan lokasi (translocation).
a)     Additions : penambahan air (hujan, irigasi), nitrogen dari bakteri pengikat N, energi dari sinar matahari, dsb.
b)     Losses : dihasilkan dari kemikalia yang larut dalam air, adanya erosi, pemanenan atau penggembalaan, denitrifikasi, dll.
c)     Transformation : terjadi karena banyak reaksi kimia dan biologi pada proses dekomposisi bahan organik, pembentukan material tidak larut dari material yang larut.
d)     Translocation : terjadi karena adanya gerakan air maupun organisme didalam tanah misalnya clay beregrak ke lapisan yang lebih dalam atau gerakan garam terlarut ke permukaan krn evaporasi.

2.2.3 Komponen-komponen Pembentukan Tanah
a. Bahan Mineral
Bahan mineral dalam tanah berasal dari pelapukan batu-batuan. Oleh karena itu, susunan mineral  di dalam tanah berbeda-beda sesuai dengan mineral dan batu-batuan yang telah lapuk. Batuan dapat dibedakan menjadi batuan beku atau batuan vulkanik (dari gunung berapi), batuan endapan (sedimen) dan batuan metamorf.
Mineral tanah dibedakan menjadi mineral primer, yaitu mineral yang berasal dari batuan yang lapuk, dan mineral sekunder yaitu mineral bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung.
b. Bahan Organik
Bahan organikk umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5%, tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali, yaitu:
1.  Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah
2.  Sumber unsure hara N, P, S dan unsure mikro
3.  Menambah kemampuan tanah untuk menahan air
4.  Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara
5.  Sumber energy bagi mikroorganisme
c. Air
Air terdapat di dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik, baik kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Manfaat air untuk pertumbuhan tanaman yaitu:
1. Sebagai unsure hara tanaman
Tanaman memerlukan air dari tanah dan C02 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesis,

2. Sebagai pelarut unsur hara
 Unsur-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-akar tanaman,
Sebagai bagian dari sel-sel tanaman, air merupakan bagian dari protoplasma. Persediaan air di dalam tanah tergantung dari ;
1.  Banyaknya curah hujan atau air irigasi
2.  Kemampuan tanah menahan air
3.  Besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui      tanah dan vegetasi)
4.  Tingginya muka air tanah
d. Udara
Udara dan air mengisi pori-pori tanah. Banyak pori-pori di dalam tanah berbeda dengan susunan udara di atmosfer. Adapun susunan udara dalam tanah yaitu ;
1.  Kandungan uap air lebih tinggi
2.  Kandungan CO2 lebih besar daripada atmosfer
3.  Kandungan O2 lebih kecil daripada atmosfer
Tanah mineral yang dapat berfungsi sebagai  media tumbuh ideal secara ideal material tersusun oleh 4 komponen yaitu bahan padatan (mineral dan bahan organik), air dan udara, berdasarkan volumenya, maka tanah secara terata terdiri dari : (1) 50% padatan, berupa 45% bahan mineral dan % bahan      organik, dan
(2) 30% ruang pori, berisi 25% ah dan 25% udara.
Secara alamiah proporsi komponen-komponen tanah sangat tergantung pada
1)  Ukuran partikel penyusun tanah makin halus berarti makin           padat tanah, sehingga ruang  porinya juga akan menyempit,     sebaliknya jika makin kasar.
2)  Sumber bahan organik tanah, tanah bervegetasi akan      mempunyai proposi bot tinggi, sebaliknya pada tanah gundul     (tanah vegetasi).
3)  Iklim terutama curah hujan dan temperatur, saat hujan dan      eksporasi (penguapan) rendah proposi air meningkat (dan      proposi udara menurun), sebalik pada saat tidak hujan dan      evaporasi tinggi.
4)  Sumber air, tanah yang berdekatan dengan sungai dan      sungai akan lebih banyak mengandung air ketimbang yang      jauh dari sungai.

2.2.4 Klasifikasi tanah

Tanah di Indonesia dibedakan menjadi  8 jenis tanah, yaitu : tanah podzolit, tanah organosol, tanah aluvial, tanah kapur, tanah vulkanis, tanah pasir, tanah humus, dan tanah laterit.  Untuk lebih jelasnya kita akan lihat pada tabel jenis tanah yang di dalamnya dibahas  mengenai terjadinya, sifatnya dan persebarannya  Tabel jenis tanah dilihat dari terjadinya, sifatnya, dan persebarannya.
Tabel 1. Jenis-jenis tanah di Indonesia dan persebarannya

Indonesia adalah negara kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini adalah macam-macam / jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Tanah Humus Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk    dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.
2. Tanah Pasir Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi      pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang     memiliki butir kasar dan berkerikil.
3. Tanah Alluvial / Tanah Endapan Tanah aluvial adalah tanah yang     dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang     memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
4. Tanah Podzolit Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya      berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu     rendah / dingin.
5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi Tanah vulkanis adalah tanah      yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur     mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai     di sekitar lereng gunung berapi.
6. Tanah Laterit Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur    dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena    larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan    Lampung.
7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur Tanah mediteran adalah tanah sifatnya     tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh :     Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
8. Tanah Gambut / Tanah Organosol Tanah organosol adalah jenis tanah     yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil     bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua     dan Sumatera.

Akibat interaksi faktor-faktor tersebut di atas, tanah yang terbentuk dapat beraneka ragam seperti dijelaskan di bawah ini.
a)     Tanah gambut (organosol)
Gambar 16. Tanah gambut
Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan makhluk hidup yang umumnya terdapat di rawa. Tanah ini kurang subur karena memiliki kadar keasaman yang rendah serta rendahnya jumlah unsur hara yang dikandungnya. Selain itu, tingkat drainase dari tanah ini sangat rendah sehingga tanah ini kurang cocok digunakan untuk pertanian.
Pusat Penelitian Tanah (1990) mengemukakan bahwa tanah gambut atau organosol adalah tanah yang mempunyai lapisan atau horison H, setebal 50 cm atau lebih atau dapat 60 cm atau lebih bila terdiri dari bahan Sphagnum atau lumut, atau jika berat isinya kurang dari 0,1 g cm-3. Ketebalan horison H dapat kurang dari 50 cm bila terletak diatas batuan padu. Tanah yang mengandung bahan organik tinggi disebut tanah gambut (Wirjodihardjo, 1953) atau Organosol (Dudal dan Soepratohardjo, 1961) atau Histosol (PPT, 1981).
·           Proses Pembentukan Gambut
Gambut dibentuk oleh timbunan bahan sisa tanaman yang berlapis-lapis hingga mencapai ketebalan >30cm. Proses penimbunan bahan sisa tanaman ini merupakan proses geogenik yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama (Hardjowegeno, 1986).
Gambut terbentuk dari lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi langka udara akibat genangan, ayunan pasang surut, atau keadaan yang selalu basah telah mencegah aktivitas mikro-organisme yang diperlukan dalam perombakan. Laju penimbunan gambut dipengaruhi oleh peduan antara keadaan topografi dan curah hujan dengan curahan perolehan air yang lebih besar dari pada kehilangan air serta didukung oleh sifat tanah dengan kandungan fraksi debu (silt) yang rendah.
Ketebalan gambut pada setiap bentang lahan adalah sangat tergantung pada:
1)    proses penimbunan yaitu jenis tanaman yang tumbuh, kerapatan tanaman dan lama pertumbuhan tanaman sejak terjadinya cekungan tersebut,
2)    proses kecepatan perombakan gambut,
3)    proses kebakaran gambut, dan
4)    perilaku manusia terhadap lahan gambut.
Gambut dengan ketebalan 3 m atau lebih termasuk kategori kawasan lindung sebagai kawasan yang tidak boleh diganggu. Kebijakan ini dituangkan melalui Keppres No. 32 tahun 1990 yang merupakan kebijakan umum dalam reklamasi dan pemanfaatan lahan gambut di Indonesia. Berdasarkan besarnya potensi sumberdaya, kendala biofisik dan peluang pengembangan, maka rawa khususnya gambut pedalaman perlu mendapatkan perhatian serius. Gambut dikategorikan sebagai lahan marjinal, karena kendala biofisiknya sukar diatasi. Prodiktifitas gambut sangat beragam, ketebalan gambut juga menentukan kesuburannya (Barchia, 2006).
·      Tingkat Kematangan Gambut
Menurut Soil Survey Staff (1990), bahwa tingkat kematangan atau tingkat pelapukan tanah gambut dibedakan berdasarkan tingkat dekomposisi dari bahan atau serat tumbuhan asalnya. Tingkat kematangan terdiri dari tiga katagori yaitu fibrik, hemik dan saprik. Tingkat kematangan tanah gambut dalam pengamatan di lapangan dapat dilakukan dengan cara mengambil segenggam tanah gambut dan memersnya dengan tangan. Kriteria mentah atau matang dari gambut dapat ditunjukkan dengan melihat hasil cairan dan sisa bahan perasan.
Ketentuan dalam menentukan kematangan gambut untuk masing-masing katagori adalah sebagai berikut:
1)    Tingkat kematangan fibrik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah tiga per empat bagian atau lebih (>3/4).

2)    Tingkat kematangan hemik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah antara kurangdari tiga per empat sampai seperempat bagian atau lebih (<3/4>1/4).

3)    Tingkat kematangan saprik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah kurang dari seperempat bagian (<1/4).>3m)
Sekitar 5%, gambut dalam dan tengahan (tebal 1m – 3m) sekitar 11% -12%, dan gambut dangkal sekitar 15% (Noor, 2001).
Kadar abu dan kadar bahan organik mempunyai hubungan dengan tingkat kematangan gambut. Gambut mentah (fibrik) mempunyai kadar abu 3,09% dengan kadar bahan organik 45,9%. Sedangkan gambut hemik mempunyai kadar abu 8,04% dengan kadar bahan organik 51,7% dan gambut matang (saprik) mempunyai kadar abu 12,04% dengan kadar bahan organik 78,3% (Setiawan, 1991).
b)    Tanah latosol merupakan jenis tanah yang berwarna merah yang umumnya terdapat pada lapisan dalam. Jenis tanah ini sangat baik dalam menyerap air.
Gambar 17. Tanah latasol
c)     Tanah regosol merupakan jenis tahah yang berasal dari erupsi gunung berapi. Tanah ini memiliki butiran yang agak kasar, berwarna keabuan, dan bersifat subur. Karena karakteristik yang dimilikinya, tanah ini cocok digunakan untuk pertanian.
Gambar 18. Tanah regosol
d)    Tanah alluvial merupakan jenis tanah yang umumnya terdapat di sepanjang aliran sungai. Sifat tanah ini sangat dipengaruhi oleh material yang dikandung oleh sungai yang melaluinya. Namun demikian, umumnya jenis tanah ini cocok digunakan untuk pertanian.
Gambar 19. Tanah alluvial
e)     Tanah Litosol, Tanah litosol dianggap sebagai lapisan tanah yang masih muda, sehingga bahan induknya dangkal (kurang dari 45 cm) dan seringkali tampak di permukaan tanah sebagai batuan padat yang padu. Jenis tanah ini belum lama mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan. Jika akan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, maka jenis tanah ini harus dipercepat perkembangannya, antara lain, dengan penghutanan atau tindakan lain untuk mempercepat pelapukan dan pembentukan topsoil. Jenis tanah ini tersebar luas di seluruh Kepulauan Indonesia, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan Maluku Selatan. Adapun di Sumatra, jenis tanah ini terdapat di wilayah yang tersusun dari batuan kuarsit, konglomerat, granit, dan batu lapis.
Gambar 20. Tanah litosol
f)     Tanah Grumusol, Tanah grumusol pada umumnya mempunyai tekstur liat, berwarna kelabu hingga hitam, pH netral hingga alkalis, dan mudah pecah saat musim kemarau. Di Indonesia, jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 m di atas permukaan laut dengan topografi agak bergelombang hingga berbukit, temperatur rata-rata 25oC, curah hujan <2.500 mm, dengan pergantian musim hujan dan kemarau yang nyata. Persebarannya meliputi Sumatra Barat, Jawa Barat (daerah Cianjur), Jawa Tengah (Demak, Grobogan), Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Madiun, dan Bangil), serta di Nusa Tenggara Timur. Pemanfaatan jenis tanah ini pada umumnya untuk jenis vegetasi rumputrumputan atau tanaman keras semusim (misalnya pohon jati).
Gambar 21. Tanah grumusol
g)    Tanah Andosol merupakan tanah ini merupakan hasil pelapukan abu vulkanik. Umumnya jenis tanah ini termasuk jenis tanah yang subur yang cocok digunakan untuk pertanian.
Gambar 22. Tanah andasol
h)     Tanah podsolik merupakan jenis tanah yang berwarna merah-kuning. Jenis tanah ini banyak terdapat di berbagai daerah di Indonesia.
Gambar 23. Tanah podsolik
i) Tanah rendzina, anah rendzina tersebar tidak begitu luas di beberapa pulau Indonesia. Berdasarkan luasannya, daerah-daerah di Indonesia yang memiliki jenis tanah ini adalah Maluku, Papua, Aceh, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Pegunungan Kapur di Jawa. Rendzina merupakan tanah padang rumput yang tipis berwarna gelap, terbentuk dari kapur lunak, batu-batuan mergel, dan gips. Pada umumnya memiliki kandungan Ca dan Mg yang tinggi dengan pH antara 7,5 – 8,5 dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini kurang bagus untuk lahan pertanian, sehingga dibudidaya-kan untuk tanaman-tanaman keras semusim dan palawija.
Gambar 24. Tanah rendzina

2.2.5        Bahan organik tanah
Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga tanah ini mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik organosol/ humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.
Tanah organik berwarna hitam dan merupakan pembentuk utama lahan gambut dan kelak dapat menjadi batu bara. Tanah organik cenderung memiliki keasaman tinggi karena mengandung beberapa asam organik (substansi humik) hasil dekomposisi berbagai bahan organik. Kelompok tanah ini biasanya miskin mineral, pasokan mineral berasal dari aliran air atau hasil dekomposisi jaringan makhluk hidup. Tanah organik dapat ditanami karena memiliki sifat fisik gembur (sarang) sehingga mampu menyimpan cukup air namun karena memiliki keasaman tinggi sebagian besar tanaman pangan akan memberikan hasil terbatas dan di bawah capaian optimum.
Tanah non-organik didominasi oleh mineral. Mineral ini membentuk partikel pembentuk tanah. Tekstur tanah demikian ditentukan oleh komposisi tiga partikel pembentuk tanah: pasir, lanau (debu), dan lempung. Tanah pasiran didominasi oleh pasir, tanah lempungan didominasi oleh lempung. Tanah dengan komposisi pasir, lanau, dan lempung yang seimbang dikenal sebagai geluh (loam).
Tanah dipandang sebagai suatu benda alam yang terdiri dari bahan-bahan an-organik yang disebut mineral dan didapat dari batuan yang telah mengalami pelapukan. Bahan-bahan an-organik ini terdiri dari sisa-sisa makhluk hidup yang telah lapuk. Berubahnya bahan-bahan an-organik dan bahan organik menjadi butir- butir tanah disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
1. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada     malam hari;